Rabu, 15 Agustus 2012

5 Petualang Popular Dunia

Kegiatan berwisata ternyata sudah ada sejak era kuno bahkan sebelum dunia mengenal perhitungan tahun Masehi. Hal ini dibuktikan oleh sebuah buku panduan turisme yang ditulis oleh ahli geografi asal Yunani, Pausanias, berjudul “The Description of Greece,” terbit sekitar tahun 160 Sebelum Masehi. Perjalanan dan petualangan tidak mengenal waktu, bahkan menembus dimensi tempat bahkan di era digital sekarang ini. Dan jika Anda seorang petualang, ataupun memiliki keinginan untuk menjelajahi luasnya dunia, sebaiknya jangan hanya berwisata saja tetapi juga mendokumentasikan hal-hal yang Anda temukan di dalam perjalan. Berikut 5 petualang popular dunia yang perlu Anda ketahui dan teladani:

1. Homer (Abad  Ke – 8 SM)

“Homer seperti Shakespear (dan Iliad juga Odyssey), namanya akan selalu tercatat dalam sejarah. Bepergian ke Troy layaknya sebuah perjalanan suci menuju Yerusalem,” ucap Tony Perrottet, petualang sejarah, penulis “Route 66 A.D” dan Ahli perjalanan wisata kuno.
Penyair Yunani, Homer menjalani sebuah kehidupan di dalam epos dan kisah Perang Trojan yang ia tuliskan menjadi peta perjalanan klasik yang selalu diikuti oleh para petualang selama hampir 3.000 tahun lamanya. Bangsa Romawi kuno merupakan salah satu bangsa yang memulai  perjalanan wisata (sebelum melakukan penjajahan), bahkan mereka berani melakukan petualangan yang memakan waktu bertahun-tahun. Menuju Athenian Acropolis dan bangunan Piramida di Mesir, dan berhenti di daratan Mediterania. Namun tidak ada sebuah tur yang sempurna tanpa mengunjungi Troy (Turki), sebuah situs berlangsungnya peperangan yang telah diubah oleh Homer menjadi awal peradaban bangsa barat.

2. Si Pembuat Peta: Strabo (Abad 64 SM – 24 SM)

“Ilmu pengetahuan geografi… merupakan salah satu perhatian para filsuf,” tulis Strabo dalam karyanya Geographica, sebuah tulisan politik dan penggambaran secara fisik mengenai dunia yang dijelajahi oleh bangsa Roma. Dengan mengombinasikan teori dengan seni, matematika, pengetahuan alam, sejarah dan mitos, Strabo menjelaskan betapa pentingnya ilmu geografi. “Kegunaannya melebihi kepopularan dan keindahannya.” Strabo adalah penjelajah dunia, yang memulai perjalanannya dari Turki menuju tempat yang masyhur dan memikat Italia, Ethiopia, Armenia, Mesir dan Yunani. Tulisannya mencerminkan sebuah perjalanan seperti apa yang dilakukan oleh Homer (yang ia sebut sebagai Bapak Geografi dunia),  Polymath Eratosthenes dari Yunani (yang pertama menggunakan kata geografi dan menghitung lingkaran bumi dan membuat peta dunia), dan ahli astronomi dan matematikaYunani Hipparpachos.
Bahkan Strabo berhutang kepada Erastosthenes atas peta dunia yang dibuatnya di abad ke – 3 SM, ia menggunakan terra firma (permukaan daratan/tanah) untuk menggambarkan lautan secara global. Sketsa Lautan Eropa bagian utara, Mediterania, Asia, Libya (dan benua Afrika), Arabia, dan India (termasuk Gangga), terdapat di dalam petanya untuk dijelajahi. Loncatan kemajuan geografi berikutnya disumbangkan oleh seorang Phoenic, Marinus dari Tyre (70-130) yang pertama kali menggunakan koordinat garis lintang dan garis bujur,dan ahli geografi Yunani-Italia, Ptolemy (90-168), yang merintis proyeksi peta berdasarkan garis lintang dan menambahkan beberapa koordinat untuk beberapa tempat dan tampilan topografi (seperti yang dilakukan oleh pendahulunya). Namun dari semua itu, hanya Strabolah yang menyintesiskan perjalanannya menjadi sebuah studi geografi –“Seni kehidupan, yakni kebahagiaan.”

3. Sang Peziarah: Xuanzang (602-664)

Pada tahun 629, seorang rahib China dengan tas ranselnya yang khas, membawa beberapa gulungan naskah meninggalkan Kota Tang untuk melakukan perjalanan sejauh 10.000 mil, dan 16 tahun petualangan di daratan India untuk memelajari dan naskah-naskah suci dan agama budha. Seorang petualang dan penulis yang tak kenal lelah, Xuanzang menapaki rute utara Jalur Sutra, mendokumentasi semua yang ditemuinya di Kyrgistan, Uzbekistan, Afghanistan dan Pakistan.
Ia berjalan melintasi Hindu Kush menuju lembah Bamian, sebuah tempat yang ia jelaskan dalam kolosalnya patung Gandhara Budha (“Warna keemasan yang indah dan gemilang dengan ornamentasi yang terbuat dari bahan-bahan berharga”) yang berhasil mendapatkan perhatian global ketika patung itu dihancurkan oleh pasukan Taliban pada tahun 2000 lalu. Perjalanan rohaninya di India sangatlah berliku dan terjal namun itulah sebuah pembelajaran yang ia dapatkan secara intelektual. Ia kembali ke China dengan membawa banyak pengetahuan, seperti naskah Sansekerta yang mencerahkan pengetahuan tentang agama budha dan menghasilkan sebuah catatan perjalanan di daratan Asia Tengah dan Selatan.
Saat ini Xuanzang dikenal sebagai seorang ahli bahasa, sejarah, peziarah dan sekaligus petualang sejati.

4. Si Penjelajah Bola Dunia: Ibn Battuta (1304–1369)

Di abad ke – 14, masa penyebaran agama islam di Afrika Utara, penjelajah ataupun pencari, sekaligus pendakwah agama islam. Ibnu Battuta (21th), seorang pelajar dari sekolah agama islam dari Maroko, mengamalkan sebuah nasehat Nabi Muhammad SAW yang berbunyi,”Carilah ilmu, bahkan sejauh negeri China.” Dan Ibnu Battuta memulai perjalanannya dari Kota Tangier, Maroko untuk berhaji untuk kali pertamanya di Kota Mekkah. Dan perjalanannya tidak berhenti di Mekah saja. Lebih dari tiga dekade selanjutnya, perjalanan suci Ibnu Battuta berkembang menjadi sebuah perjalanan wisata yang melintasi 40 negara dalam pemetaan modern –dari utara Afrika hingga ke Mesir, Timur Tengah, Afrika bagian timur, Anatolia, India, Asia Tenggara dan Timur, dan China.
Perjalanan Ibnu Battuta, salah satunya didasari oleh rasa keingintahuan dan kisah-kisah yang ia pernah dengar sebelumnya, dari seorang pengingat/penghapal menjadi seorang penulis, dan karyanya lebih dari sekedar panduan bagi perkembangan dunia silam di Era Pertengahan. Sebuah kisah perjalanan yang ‘membisingkan’ dalam sejarah lisan selama tiga dekade, sebuah kisah geografis, sejarah ilmu alam, politik, agama, manusia ( kira-kira ada 2.000 nama yang ia sebutkan) dan refleksi personal. Karyanya “Rihla” (Sebuah Perjalanan), sebuah kisah mengenai apa yang ia temukan, merupakan sebuah simpulan dari karyanya yang cukup panjang, “Hadiah untuk Mereka yang Merenungkan Keajaiban Kota dan Keindahan Sebuah Perjalanan.”

5. Gastronot Global: Thomas Jefferson (1743-1826)

Presiden Amerika Serikat yang ketiga ini merupakan salah satu petualang sejati. Ia telah menjelajahi daratan Eropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman dan Itali. Dalam perjalanan itu pun sekaligus ia mempelajari berbagai hal seperti cara membangun sebuah organisasi/yayasan, kekayaan budaya dan vitikultura (pemeliharan tanaman anggur).
Berkat pengetahuan yang disumbangkan oleh Thomas Jeffersonlah, Wine semakin dikenal oleh seluruh masyarakat dunia. Ia memberikan sebuah pandangan bahwa anggur tidak hanya disajikan dalam bentuk buah-buah saja di atas meja makan. Selain bidang vitikultura, rasa keingintahuannya pun tercermin dalam petualangannya dalam mempelajari ekonomi translantis (yang ia lakukan dalam rangka berjualan wine ke berbagai negara, dan mengenalkan cara ekspor-impor) seperti di Perancis, Itali, Portugal dan Spanyol. Sekembalinya di Amerika Serikat, ia membawa beberapa potong pohon anggur yang telah ia tanam sebelumnya di Monticello, kemudian ia kembangkan dan menjadi bibit unggulan di Amerika Serikat.
Petualangan Thomas Jefferson tidak terbatas pada sebotol Wine saja –di dalam perjalanannya pun ia senantiasa mempelajari ilmu hukum, pemerintahan, sejarah, arsitektur, agrikultur, sastra, musik dan ilmu pengetahuan. Namun memang gairah petualangannya terbukti melalui hasratnya di dalam membudi-dayakan tanaman anggur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar