Jumat, 10 Agustus 2012

10 Novel Fantasi yang Terlupakan Sebelum 1937

Novel bergenre fantasi seperti ‘Lord of The Rings’ telah merubah wajah dunia hiburan internasional sejak cerita trilogi tersebut difilmkan. Alhasil, banyak novel-novel fantasi yang diangkat menjadi film sekaligus telah mengajak kalangan anak-anak untuk membaca dan mencintai novel-novel fantasi tersebut, padahal sebelumnya hanya orang dewasa saja. Tahukah Anda bahwa J. R. R. Tolkien pun telah menulis novel bergenre sama dengan judul The Hobbits pada tahun 1937? Bahkan semenjak itu, profesor Universitas Oxford tersebut telah merubah wajah dunia novel bergenre fantasi. Padahal jauh sebelumnya banyak juga novel fantasi yang telah mendahului karya-karya dari seorang filolog Inggris tersebut. Berikut ini memperkenalkan ringkasan dari lima novel klasik bergenre fantasi yang mungkin bisa anda jadikan bahan bacaan selanjutnya:

1. The Water-Babies (1863)
Karya Charles Kingsley

Karya yang telah difilmkan pada tahun 1978 ini adalah novel untuk anak-anak dan siapa pun yang tertarik dengan dongeng-dongeng Victorian dan sedikit kontroversi. Cerita ini mengandung pesan moral pada bermacam-macam topik, bukan saja tentang tenaga kerja di bawah umur tetapi juga tentang sejumlah topik agama dan ilmiah.
Cerita ini adalah tentang seorang anak laki-laki berumur 12 tahun yang menemukan dunia bawah laut yang kompleks, dimana anak-anak ditahan oleh hiu dan belut jahat. Sebelum ia dapat kembali ke permukaan dan membersihkan namanya, ia harus menolong Water Babies meninggalkan danau tertutup dan mencapai lautan bebas.

2. The House on the Borderland (1908)
Karya William Hope Hodgson

Ini adalah sebuah novel horor dan merupakan cabang genre fantasi yang lebih gelap, namun horor kosmik dan supernatural yang ditemukan di House on the Borderland ini tidak kurang fantastis dibanding apa pun yang dapat Tolkien sihir. Apabila kamu menggemari hal-hal supernatural seperti halnya peri-peri dan naga, maka anda bisa temukan asal-usul subgenre anda di dalam cerita ini.

3. Lost Horizon (1933)
Karya James Hilton

Mungkin Anda pernah mendengar ‘Shangri-La’. Ada gedung-gedung, taman, album, lagu, serial manga, kota, wilayah bulan Saturnus, dan rangkaian hotel di Hong Kong yang menggunakan nama tersebut. Nyatanya, nama ini bahkan melebihi ketenaran dari novel ini sendiri. Lost Horizon diangkat ke dalam sebuah film pada tahun 1937 oleh sutradara Frank Capra dengan judul yang sama. Novel ini dikenal sebagai asal-usul Shangri-La, sebuah lamasery fiktif yang berada di atas pegunungan Tibet. Anda dapat menemukan cerita tentang keabadian, imperialisme Inggris, dan semuanya yang dapat anda bayangkan dari sebuah novel fantasi.

4. The Princess and the Goblin (1872)
Karya George MacDonald

Ini adalah sebuah cerita fantasi dan keajaiban yang sederhana dan cerdik dalam bentuk buku anak-anak. Kita akan temukan figur-figur klasik: ruang gelap bawah tanah, jin, puteri, dan petualangan. Ceritanya kaya yang bisa dinikmati oleh semua umur, dan pelajaran-pelajaran yang dapat diambil sangat bermutu tinggi bagi pembaca mana pun yang mencari sesuatu untuk dibaca bagi anak-anak. Dan cerita ini merupakan salah satu cerita favorit Tolkien saat masih anak-anak.

5. Lud-in-the-Mist (1926)
Karya Hope Mirrless

Novel ini menjelajahi beberapa tema yang bisa dikategorikan menarik untuk ukuran novel fantasi tingkat tinggi, dan cukup berbeda. Cerita ini merupakan misteri pembunuhan dengan solusi play-by-the-rules dari John Dickson Carr atau Dorothy Sayers; sebuah drama psikologis tentang penemuan-diri dan konflik antar generasi, sebuah kritikan bagi kebudayaan kelas menengah di Inggris, termasuk pemertahanan estetika kaum bangsawan, upacara (secara tersirat, atau hubungan historis) dan Ajaran Katolik Roma, melawan modernitas komersil yang berpegang teguh pada norma moral dan menjemukan (secara tersirat juga).
Novel ini bercerita tentang sebuah dunia dongeng, sebuah tempat orang-orang biasa hidup damai, namun terganggu oleh aliran buah-buahan gaib yang datang dari daerah-daerah tetangga. Nathaniel Chanticleer adalah seorang walikota dan menjaga kota tersebut dengan cukup baik apabila dilihat dari luar. Namun, dari dalam, ia ketakutan, dan anaknya mengalami kengerian yang sama. Lud-in-the-Mist telah kembali lagi pada hubungan-hubungan gaib masa lalunya, telah menolak berhubungan dengan Elfland di seberang Debatable Hills, dan bahkan menganggap apa pun yang berkaitan dengan hal-hal tersebut sebagai hal yang cabul dan mengutuk bagi mereka yang tidak sopan. Dan Nathaniel, selama masa mudanya, mengalami numinous yang sesaat mengisi kehidupannya dengan kerinduan akan sesuatu yang berada di dunia luar, dan telah lari dari peristiwa tersebut sejak saat itu. Kehidupan seharusnya tidak mengandung hal-hal semacam itu, kehidupan seharusnya tidak berubah, kehidupan seharusnya dapat diprediksi dan konstan serta dapat diandalkan dan sedikit sama dengan peristirahatan terakhir yaitu kematian. Namun kematian berkaitan dengan hal gaib juga.


6. The Wind in the Willows (1908)
Karya Kenneth Grahame

Diadaptasi ke dalam sebuah drama oleh A.A. Milne (penulis Winnie the Pooh), begitu juga halnya ke dalam setengah film Disney “The Adventures of Ichabod and Mr. Toad” (setengah lainnya diadaptasi ke dalam cerita Sleepy Hallow), cerita yang telah beredar di Indonesia dengan judul Embusan Angin di Pohon Dedalu ini tentu saja merupakan cerita paling terkenal namun telah terlupakan dan tidak banyak orang pernah membaca buku ini. Ini adalah sebuah cerita manis untuk anak-anak tentang seekor kodok yang kaya, seekor tikur air, seekor tikus mondok yang rendah hati, dan petualangan-petualangan dengan makhluk-makhluk lainnya, dewa Pan, dan tentu saja, sebuah pohon ramping.

7. The Worm Ouroboros (1922)

Karya Eric Rücker Ditulis dengan gaya heroik tinggi, Eddison membawa kita menjelajahi Mercury, sebuah pulau yang dibagi menjadi beberapa kerajaan seperti Witchland dan Demonland, di dalam sebuah perjalanan bertahun-tahun yang diwarnai dengan pertempuran-pertempuran heroik, makhluk-makhluk sakti, dan tiga bersaudara, Goldry Bluszco, Lord Juss, dan Lord Spitfire. Apa yang benar-benar membuat cerita ini istimewa adalah akhirnya.

8. The Well at the World’s End (1896)
Karya William Morris

Buku ini membantu melengkapi cerita fantasi klasik. Dan, memang, baik C.S. Lewis maupun J.R.R. Tolkien sangat terpengaruh oleh karya-karya William Morris, khususnya novel ini. Ditulis dengan gaya abad pertengahan, kita mengikuti petualangan-petualangan seorang lelaki muda untuk mencari Telaga di Ujung Dunia, yang akan memberikan dia kehidupan abadi. Ralph bertemu dengan seorang perempuan misterius yang telah minum dari telaga tersebut, dan mereka menjadi sepasangan kekasih. Namun, perempuan tersebut terbunuh, dan dengan pertolongan Ursula, gadis lainnya yang ia temui, Ralph akhirnya mencapai Telaga tersebut.

9. The King of Elfland’s Daughter (1924)
Karya Lord Dunsany

Buku ini dianggap termasuk karya pionir bergenre fantasi modern. Cerita ini bermula dari seorang raja Erl yang diminta oleh parlemen Rakyat bahwa mereka ingin diperintah oleh raja yang sakti. Dengan mematuhi adat-istiadat yang sudah lama sekali, raja tersebut mengirim anaknya Alveric untuk menjemput anak perempuan Raja Elfland, Lirazel, yang akan menjadi pengantin perempuannya. Ia melakukan perjalanan ke Elfland, dimana waktu terasa jauh lebih lambat dibanding dunia nyata, dan mendapatkan perempuan tersebut. Mereka kembali ke Erl dan memiliki satu anak laki-laki, namun istri dari Alveric sulit untuk beradaptasi dengan masyarakat di sana. Ia kembali ke ke ayahnya di Elfland, dan suaminya pergi mencarinya, melepaskan kerajaan Erl dan berkelana di dalam pencarian tanpa harapan. Namun, Lirazel menjadi kesepian tanpa suami dan anaknya. Melihat anak perempuannya tidak bahagia, Raja Elfland menggunakan sihir kuatnya untuk mendekatkan pulau Erl. Erl berubah menjadi bagian Elfland, dan Lirazel dan orang-orang dicintainya bersatu kembali selamanya di dunia yang menyenangkan dan abadi.

10. The Faerie Queene (1590 – 1596)
Karya Edmund Spenser

Kembali ke tiga abad sebelumnya, ada seorang penyair Edmund Spenser. Syair kepahlawanan yang tidak selesai ini ditulis untuk memuji Ratu Elizabeth I dan melukiskan sejumlah dongeng alam gaib, syair-syair kepahlawanan Arthurian, dan kegembiraan fantasi klasik. Buku ini juga merupakan salah satu syair terpanjang dalam bahasa Inggris, asal-usul stanza Spenserian, dan klise lama ‘mawar adalah merah, violet adalah biru’ ditemukan di dalam bentuk paling awal di dalam syair ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar