Kamis, 09 Agustus 2012

10 Kebiasaan Menulis yang Aneh dari Seorang Penulis Terkenal

Untuk mencari dan memperlancar pencapaian pencarian inspirasi menulisnya, seorang penulis terkadang melakukan ritual, lebih tepatnya kebiasaan yang berbeda-beda. Mencari kenyamanan dan suasana yang mendukung terciptanya deretan sebuah karya tulis adalah sesuatu yang diinginkan seorang penulis. Kebiasaan tersebut terkadang aneh, lain dari menyepi dan kebiasaan  lainnya, yang  kerap diakui oleh beberapa penulis, seperti berikut ini:

1. Truman Capote (30 September , 1924 Agustus 1984)
Truman Streckfus Capote adalah seorang penulis Amerika yang dikenal sebagai penulis cerita pendek, novel, naskah drama dan bahkan non-fiksi. Karyanya yang terkenal dan dijadikan sebuah film adalah Breakfast at Tiffany’s yang dipublikasikan pada tahun 1958.

Kebiasaan Capote pada saat menulis karya yaitu dengan merebahkan badan dengan ditemani segelas sherry di tangannya dan sebuah pensil di tangan satunya lagi. Pada tahun 1957, Paris Review mewawancarainya tentang kebiasaannya ini. Menurut Capote dia adalah seorang penulis yang berpandangan horisontal, maksudnya dia tidak dapat berpikir jernih jika tidah merebahkan tubuhnya,entah itu pada sebuah sofa atau tempat tidur.
Teman menulis lainnya adalah sebatang rokok dan kopi pada pagi hari. Dia merasa harus menghisap rokok dan menyeruput minuman. Di siang hari ia akan mengganti minumannya dengan segelas teh mint, sherry atau martini. Dia tidak menggunakan mesin tik pada awal ia menulis, pada awalnya semua karyanya dihasilkan dari proses ritual di atas, menulis tangan, merebahkan diri ditemani minuman dan rokok.

2. John Cheever (27 May 1912 – 18 Juni 1982)
John William Cheever adalah novelis dan penulis cerita pendek asal Amerika Serikat. Biasa dikenal sebagai “Chekov of the suburbs”. Karya fiksinya kebanyakan berlatar di Sebelah Timur Manhattan, pinggiran Westchester, New England, kota-kota di sekitar Quicy, Massachusetts dan Italy, tempat ia dilahirkan. Dia dikenal sebagai salah satu penulis cerita pendek yang penting dalam kesusastraan di abad 20.

Dalam essay di majalah Newsweek terbitan tahun 1978, Cheever menyebutkan bahwa untuk menghasilkan koleksi cerita pendek, kebanyakan ditulis ketika ia hanya mengenakan celana dalam saja. Bukan hal yang mengejutkan karena ia dikenal selalu mengenakan pakaian yang sama, jadi untuk apa membuat pakaiannya kusut pada saat ia menulis, selama ia dapat melipatnya dan mengerjakan karya dengan hanya mengenakan celana dalamnya saja.

3. Francine Prose (1 April 1947)
Francine Prose adalah penulis asal Amerika yang juga menjabat sebagai presiden dari PEN American Center, sebuah badan yang menjadi tempat berkumpulnya penulis, editor, dan penerjemah, sejak 2007 lalu. Ia pernah juga menjabat dewan juri dari PEN/Newman’s Own Awarm sebuah penghargaan yang diberikan pada sastrawan/sastrawati.  Novelnya yang terkenal adalah Blue Angel, cerita satir tentang penganiayaan seksual pada dunia kampus, dan karyanya ini pernah menjafi finalis untuk National Book Award.

Di saat menulis karyanya, ia akan menggunakan celana flanel milik suaminya yang berwarna merah dan hitam dan kaos. Dalam wawancaranya dengan Kate Bolick di tahun 1998, Prose juga menambahkan ia tinggal di sebuah apartemen dimana ia memiliki jendela besar dengan tinggi 20 kaki menghadap ke sebuah bangunan bata merah. Tidak banyak pemandangan indah untuk itu, tapi menurutnya hal ini cukup sempurna dimana ia tidak akan menjumpai gangguan apapun selain tembok bata merah yang ia pandangi saat ia menulis karyanya.

4. Ernest Hemingway (July 21, 1899 – July 2, 1961)
Ernest Miller Hemingway adalah seorang penulis dan jurnalis asal Amerika. Hemingway menghasilkan banyak karyanya diantara pertengahan 1920 dan 1950, dan ia mendapatkan Nobel sastra pada tahun 1954. Ia menulis 7 novel, 6 koleksi cerita pendek dan 2 karya non-fiksi. Ia terkenal dengan karyanya yang berjudul Farewell to Arms dan The Sun Also Rises.

Hemingway dikenal dengan kebiasaan menuliskan 500 kata dalam sehari, kebanyakan di pagi hari, waktu yang tepat menghindari terik udara. Walaupun dikenal sebagai penulis yang produktif, ia tahu kapan ia harus berhenti dan melanjutkan menulisnya di hari berikutnya. Dalam suratnya kepada Scott Fritzgerald di tahun 1934 dia menyebutkan bahwa ia menulis satu halaman karya bagus di atara 91 lembar yang jelek, yang lalu ia buang ke tempat sampahnya. Produktif mengalahkan satu kata yaitu perfeksionis.

5. William Faulkner (September 25, 1897 – July 6, 1962)
William Cuthbert Faulkner adalah penulis Amerika dan peraih nobel laurate dari Oxford Mississippi. Tidak hanya sebagai penulis cerita pendek, naskah drama, essai, penyair dan novelis, Faulkner pun bekerja di beberapa media menjadi penulis kolom. Yang paling dikenal dari karyanya yaitu novel dan cerita pendeknya, yang kebanyakan berlatar daerah fiktif, Yoknapatawpha County yang digambarkan serupa dengan tempat kelahirannya yaitu Lafayette. Ia pernah meraih Nobel sastra di tahun 1949 dan Pulitzer untuk 2 karyanya yaitu A Fable dan The Reivers.

Faulkner meminum whiskey dalam takaran yang cukup banyak saat ia menulis karyanya. Kebiasaan ini dimulai saat ia bertemu dan tinggal bersama dengan Sherwood Anderson di New Orleans. Dikemukakan oleh Faulkner pada tahun 1957, ia bertemu dengan Anderson dan memulai kebiasaan minumnya yang bisa sampai menghabiskan waktu sampai dini hari sambil mendengarkan Anderson bercerita. Dan kebiasaan itu akhirnya dijadikan ritual oleh Faulkner karena tingkat keseringannya ia menenggak minuman tersebut di setiap harinya.(**)

6. T S Eliot
Thomas Stearns Eliot adalah seorang penulis naskah drama, kritikus sastra dan tidak diragukan lagi sebagai seorang penyair paling terkenal dalam sejarah sastra abad 20. Pada usia 25 tahun ia pindah ke Inggris dari Amerika dan dinaturalisasi pada saat ia berumur 39 tahun. Karyanya yang terkenal adalah The Song of J Prufock yang mulai ia kerjakan pada tahn 1910 dan dipublikasi pada tahun 1915, dikenal sebagai karya besar yang menjadi tonggak gerakan modern. Dan karya lainnya yang terkenal adalah The Wasteland yang dipublikasi pada tahun 1922.

Lyndall Gorson dari A Modern Life yang mewawancarai T S Eliot pada tahun 1920, menyebutkan bahwa T S Eliot mempunyai kebiasaan melumuri mukannya dengan bedak berwarna hijau agar terlihat pucat dan terlihat beringas, hal ini yang menyebabkan mengapa TS Eliot sering dipanggil dengan Captain Eliot, sebab di dalam ruangan pencari inspirasinya ia harus terlihat beringas.

7. Flannery O’Connor (March 25, 1925 – August 3, 1964)
Mary Flannery O’Connor adalah penulis cerita pendek, essai dan novelis asal Amerika. Merupakan penulis yang penting untuk kesusastraan Amerika, karena selain karya novel dan cerita pendeknya, O’Connor juga kerap menyumbangkan review dan komentar-komentar untuk kemajuan kesusastraan. Gaya penulisannya mengarah ke gaya gothic daerah selatan, dimana terdapat nilai-nilai religi yang kuat dengan banyak pertanyaan-pertanyaan moral dan etika.

Dalam kebiasaan menulisnya, O’Connor menetapkan diri untuk menulis selama 3 jam saja setiap harinya karena ia hanya mempunyai 2 jam untuk energinya. Bagaimanapun ia menjadikan 2 jam itu menjadi 2 jam tanpa gangguan dari siapapun, di jam dan tempat yang selalu sama di setiap harinya. Sejak penyakit Lupus yang ia derita, ia semakin terbebani dengan kondisinya yang tidak seperti dulu, yang ia lakukan adalah menulis menghadap ke lemari kayunya dengan harapan ia tidak mendapatkan gangguan apapun dari sekitarnya.

8. Vladimir Nabokov (22 April 1899 – 2 July 1977)
Vladimir Vladimirovich Nabokov adalah penulis cerita pendek, penyair dan novelis yang memiliki keahlian menulis 2 bahasa yaitu Rusia dan Inggris dalam karyanya. 9 Novel pertamanya berbahasa Rusia, lalu setelah itu ia beralih untuk memublikasikan karya berikutnya dalam bahasa Inggris. Novelnya yang terkenal adalah Lolita pada tahun 1955 yang menceritakan tentang cerita cinta yang ia kemas dengan permainan kata dan detail pada karakterisasi perannya. Novel ini menempati posisi keempat dalam urutan 100 Novel Terbaik versi Modern Library.

Nabokov menyukai menulis karyanya dalam kartu indeks yang ia bisa bawa dan kantungi kemana saja. Dengan ukuran 3 x 5 inchi, kartu indeks ini akan ia satukan dan taruh ke dalan kotak kecil. Menurut wawancaranya dengan Paris review pada tahun 1967, Nabokov menyebutkan bahwa jadwalnya sangat fleksibel, tapi ia tidak akan melupakan alat-alat sumber inspirasinya yaitu kartu indeks dan sebuah pensil yang selalu teraut dengan sempurna dan penghapuenya. Karena inspirasi bisa datang kapan saja, maka instrumen yang gampang ia gapai pun menjadi sangat penting dalam kebiasaan menulisnya.

9. Eudora Welty (April 13, 1909 – July 23, 2001)
Eudora Alice Welty adalah penulis cerita pendek dan novelis yang berasal dari Amerika Selatan. Novelnya yang berjudul The Optimist’s Daughter pernah memenangkan Pulitzer Award di tahun 1973. Welty juga pernah dianugerahi Presidential Medal of Freedom di antara banyak penghargaannya.

Pada tahun 1953, Welty pernah menulis surat pada temannya, William Maxwel bahwa ia sering menempelkan kertas-kertas hasil tulisannya di dalam kamarnya. Menurutnya, hal itu membantu dalam proses penulisannya dan terlihat lebih realistik jika lembaran-lembaran tersebut dilihatnya setiap ia masuk ke dalam kamarnya tersebut. Saat kamarnya penuh dengan kertas-kertas tersebut, Welty akan mengambil itu semua dan menyatukannya dan menaruh tumpukannya di meja kerjanya. Saat karya-karyanya ditempel di dinding kamarnya, menurutnya itu seperti kerajinan sulam dimana Anda dapat membacanya dari segala arah.

10. Thomas Wolfe (October 3, 1900 – September 15, 1938)
Thomas Clayton Wolfe adalah novelis yang cukup terkenal asal Amerika pada abad 20. Wolfe menulis 4 novel dan beberapa cerita pendek, dan novella. Karya dikenal dengan unsur penggabungan puitus, rhapsody dan impressionis yang dirangkum ke dalam jenis otobiografikal.  Karyanya banyak dipublikasi pada kisaran waktu 1920 sampai 1940.

Dalam wawancaranya bersama George Plimpton, Wolfe menyebutkan bahwa Wolfe mempunyai kebiasaan menulis karyanya dengan kuota yang sama. Dengan bantuan mesin tiknya, Wolfe membatasi menulis 10 lembar tulisan dalam 1 harinya dengan spasi 3, sekitas 800 kata dalam satu harinya. Jika ia dapat menyelesaikannya dalam 3 jam ia akan menutup harinya dengan istirahat, tanpa ada proses menulis lagi. Tapi jika 3 jam pun belum ia selesaikan, ia akan menyelesaikannya sampai kuotanya terlaksana, walaupun itu akan menghabiskan waktu 12 jam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar