Rabu, 29 Agustus 2012

10 Raja Eropa yang Kehilangan Takhta di Abad 20

Keadaan mengantarkannya pada tahta yang luar biasa. Tapi keadaan pula yang menjadikannya kehilangan kuasa. Intrik politik, permasalahan ekonomi, ketidak mampuan memimpin, peperangan  hingga konspirasi, menjadikan 10 raja-raja Eropa berikut kehilangan takhtanya yang telah terbangun ratusan tahun hingga ribuan tahun yang lalu. Berikut paparannya:

1. Raja Manuel II, Portugal
Bernama Manuel Maria Filipe Carlos Amélio Luís Miguel Rafael Gabriel Gonzaga Francisco de Assis Eugénio de Saxe-Coburgo-Gotha e Braganca — (lahir di Lisboa, 19 Maret 1889 – meninggal di Twickenham, Inggris, 2 Juli 1932 pada umur 43 tahun) berkuasa sebagai raja Portugal ke-34 dan raja terakhir Portugal dari tahun 1 Februari 1908 hingga 5 Oktober 1910.

2. Tsar Nikolas Romanov II, Rusia
Dikenal dengan nama Nikolas II atau Nikolai Aleksandrovich (18 Mei 1868–17 Juli 1918) ialah Tsar terakhir Kekaisaran Rusia. Pendukung politik damai di Eropa. Pada masa pemerintahannya terjadi peningkatan teror, perlawanan, dan kekacauan. Ia dipaksa untuk memberlakukan sebuah konstitusi bagi negerinya, namun membatasi pengaruh dan kekuasaan Majelis Perwakilan. Ia dipaksa turun tahta pada 1917 saat Revolusi Bolshevik dan dipenjarakan beserta seluruh keluarganya, kemudian semuanya dieksekusi.

3. Kaisar Wilhelm II, Jerman
Friedrich Wilhelm Viktor Albrecht von Preußen dari Prusia (27 Januari 1859 – 4 Juni 1941), adalah Kaisar Jerman terakhir (Kaiser) dan Raja Prusia, yang berkuasa pada 15 Juni 1888-9 November 1918. Dia adalah cucu dari Ratu Victoria Inggris, dan terkait dengan banyak raja dan pangeran di Eropa. Dinobatkan pada tahun 1888, ia menolak Kanselir Otto von Bismarck, permusuhan dalam urusan luar negeri, yang berpuncak pada dukungannya untuk Austria pada krisis musim panas tahun 1914 yang menyebabkan Perang Dunia I. Wilhelm sering melakukan kesalahan, membuat keputusan diplomatik besar sendiri, mengabaikan pemerintah sipil hingga memungkinkan para jenderalnya untuk mendikte kebijakannya selama Perang Dunia I. Seorang pemimpin perang tidak efektif, ia kehilangan dukungan dari militer, sampai akhirnya menyerahkan kekuasaannya setelah kalah perang pada bulan November 1918, dan melarikan diri ke pengasingan di Belanda.

4. Raja Charles I/IV, Austria-Hungaria
Charles I dari Austria atau Charles IV dari Hungaria bernama lengkap Karl Franz Joseph Ludwig Hubert Georg von Habsburg Otto Marie-Lothringen, (17 Agustus 1887-1 April 1922) adalah penguasa terakhir dari Kekaisaran Austro-Hungaria. Ia adalah kaisar terakhir dari Austria, Raja terakhir dari Hungaria, Raja terakhir dari Bohemia dan Kroasia dan Raja terakhir dari Galicia dan Lodomeria dan raja terakhir dari House of Habsburg-Lorraine. Dia memerintah sebagai Charles I sebagai Kaisar Austria dan Charles IV sebagai Raja Hungaria dari 1916 sampai 1918.  Charles kehilangan tahtanya ketika republik didirikan di dua kerajaan tersebut pada tahun 1918. Dia menghabiskan tahun-tahun sisa hidupnya, untuk  mencoba dan mengembalikan monarki sampai kematiannya pada tahun 1922.

5. Raja Peter II, Yugoslavia
Dikenal sebagai Petrus II Karadordevic  (6 September 1923 – 3 November 1970), adalah Raja ketiga dan terakhir Yugoslavia. Ia adalah putra tertua dari Raja Alexander I dan Putri Maria dari Rumania; walinya adalah George V dari Inggris. Pendidikannya dimulai di Royal Palace, kemudian di Sandroyd di Wiltshire, Inggris. Pada usia 11 tahun, Peter naik takhta Yugoslavia pada tahun 1934 atas pembunuhan ayahnya Raja Alexander I di Marseille, selama kunjungan kenegaraan ke Prancis. Tetapi kekuasannya berangsur-angsur tercabut darinya setelah meletusnya Perang Dunia ke 2 pada tahun 1939, dimana Nazi German berhasil menguasai negerinya. Setelah perang usai, negerinya diplokamirkan  menjadi sebuah republik oleh Joseph Broz Tito.

6. Kaisar Xuantong, China
Kaisar Xuantong atau Puyí (7 Februari 1906 – 17 Oktober 1967) adalah kaisar kedua belas dinasti Qing yang juga kaisar terakhir Tiongkok yang memerintah dari tahun 1908 sampai 1924. Setelah kematian kaisar Guang Xu, saat PuYi berumur 2 tahun, dia diangkat menjadi kaisar dengan nama kekaisaran Xuan Tong. Pada masa pemerintahannya, Dr. Sun Yat Sen melakukan revolusi pada tahun 1911 dan mengakhiri zaman kekaisaran Tiongkok yang telah ada selama lebih dari 2000 tahun. Setelah revolusi, PuYi masih diijinkan untuk tinggal di daerah kekaisaran (Kota Terlarang). PuYi juga pernah diangkat menjadi pemimpin tertinggi di negara Manchu (Man Zhou Guo), sebuah negara boneka buatan Jepang yang merupakan wilayah Tiongkok dan berbatasan dengan Russia, Tiongkok, Korea Utara dan Mongolia. Setelah kekalahan Jepang pada perang dunia kedua, Uni Soviet menguasai wilayah Manchu dan kemudian menangkap PuYi di bandara penerbangan disaat PuYi berusaha kabur ke Jepang. PuYi ditahan selama 5 tahun dan kemudian dikirim balik ke Tiongkok pada tahun 1950. Sekembalinya di Tiongkok, PuYi mengakui kesalahannya dan menyatakan penerimaannya terhadap pembaharuan, pendidikan dan revolusi sehingga pada tahun 1958 PuYi dibebaskan oleh pemerintahan Tiongkok dan saat itu PuYi yang sebelumnya adalah kaisar kemudian menjadi rakyat biasa. Dia meninggal karena sakit pada umur 61.

7. Sultan Mehmed VI, Ottoman Turki
Nama aslinya Mehmed Vahdettin atau Mehmed Vahideddin, (14 Januari 1861 – 16 Mei 1926) ialah khalifah ke-40 Turki Utsmani, menjabat antara tahun 1918–1922. Khalifah Islam ke-100 ini, naik tahta akibat bunuh dirinya Yusuf Izzetin, pewaris tahta. Ia bertahta mulai tanggal 4 Juli 1918, sebagai padishah ke-36. PD I menyebabkan bencana bagi Khilafah Turki Utsmani. Angkatan Bersenjata Inggris telah merampas Baghdad dan Jerusalem selama perang dan sebagian besar kekhalifahan akan dibagai-bagikan kepada kuasa Eropa. Dalam konferensi San Remo pada April 1920, Perancis telah diberi mandat atas Suriah dan Britania Raya telah diberi mandat atas Palestina dan Mesopotamia. Pada tanggal 10 Agustus 1920, perwakilan Mehmed menandatangani Persetujuan Sevres, yang mengakui mandat itu, melepaskan kendali Ottoman atas Anatolia dan Izmir, menghilangkan perluasan Turki, dan mengakui Hejaz sebagai negara merdeka.
Kelompok nasionalis Turki (yang dideking pihak Barat) berang dengan penyetujuan Sultan atas permukiman-permukiman tadi. Sebuah pemerintahan baru, Majelis Nasional Agung Turki, dipimpin oleh Mustafa Kemal telah terbentuk pada bulan April 1920, berpusat di Ankara. Pada tanggal 23 April, pemerintahan Mehmed ditiadakan dan konstitusi sementara disahkan. Keberhasilan kelompok nasionalis membuat kekuasaan kalifah ditiadakan pada tanggal 1 November 1922, dan Mehmed meninggalkan Istanbul, menaiki kapal perang Inggris pada tanggal 17 November. Menuju Malta untuk eksil, Mehmed kemudian tinggal di Riviera Italia. Ia meninggal pada tanggal 15 Mei 1926 di San Remo, Italia.

8. Shah Mohammad Reza Pahlavi, Iran
Mohammad Reza Pahlavi, Shah Iran (26 Oktober 1919 – 27 Juli 1980), yang menyebut dirinya Yang Mulia Baginda, dan memegang gelar kerajaan Shahanshah (Raja segala raja), dan Aryamehr (Terang bangsa Arya), adalah kaisar Iran dari 16 September 1941 hingga Revolusi Iran pada 11 Februari 1979. Ia adalah kaisar kedua dari Dinasti Pahlavi and Shah terakhir dari monarki Iran.
Shah naik takhta pada Perang Dunia II, setelah invasi Soviet yang memaksa ayahnya, Reza Shah turun takhta. Revolusi Putihnya, serangkaian pembaruan ekonomi dan sosial yang dimaksudkan untuk mentransformasikan Iran menjadi suatu kekuatan global, berhasil antara lain memodernisasi negara itu, menasionalisasikan banyak sumber alam, dan memperluas hak pilih kepada kaum perempuan. Namun demikian, kegagalan sepihak dari reformasi tanah, tidak adanya demokratisasi seperti yang dikritik oleh sebagian lawannya, serta kemerosotan kekuatan tradisional dari para rohaniwan Syi’ah yang sebagian disebabkan oleh pembaruan-pembaruan itu, meningkatkan oposisi terhadap kekuasaannya. Meskipun ia sendiri adalah seorang Muslim, Shah perlahan-lahan kehilangan dukungan dari para rohaniwan Syi’ah di Iran, khususnya karena kebijakan Westernisasinya yang kuat dan pengakuannya terhadap Israel.
Berbagai kebijakan yang kontroversial diberlakukan, termasuk larangan terhadap Partai Tudeh dan penindasan terhadap kaum pembangkang oleh dinas rahasia Iran, SAVAK; Amnesty International melaporkan bahwa Iran mempunyai hingga 2.200 tahanan politik pada 1978. Pada 1979, gejolak politik telah berubah menjadi revolusi yang memaksa Shah untuk meninggalkan Iran setelah berkuasa selama 37 tahun. Tak lama setelah itu, kekuatan-kekuatan revolusioner mengubah pemerintahnya menjadi Republik Islam.

9. Dalai Lama Tenzin Gyatso, Tibet
Tenzin Gyatso (6 Juli 1935; umur 76 tahun) adalah Dalai Lama yang ke-14. Anak kelima dari sembilan bersaudara keluarga petani ini dinyatakan sebagai tulku (reinkarnasi) Dalai Lama ke-13 pada usia tiga tahun. Pada tanggal 17 November 1950, ia naik takhta sebagai kepala negara Tibet di saat pendudukan daerah itu oleh pasukan Republik Rakyat Cina. Setelah kekalahan gerakan perlawanan Tibet pada 1959, Tenzin Gyatso mengungsi ke India dan mendirikan pemerintah Tibet di pengasingan.
Pada sebuah ceramah yang disampaikan pada tanggal 10 Maret 2011, Dalai Lama ke-14 menyatakan bahwa menyampaikan pendapat atas perubahan kepada konstitusi dari Pemerintahan Tibet dalam pengasingan yang akan menghapus peran Dalai Lama sebagai pemimpin negara, menggantikannya dengan seorang pemimpin terpilih. Jika hal ini diterima oleh Parlemen pemerintah Tibet dalam pengasingan, keputusan ini akan menyatakan pengunduran diri Dalai Lama dari peran politik resminya, walaupun ia akan tetap mengemban posisinya sebagai pemimpin agama. Ia menyampaikan pengunduran dirinya secara resmi sebagai pemimpin politik kepada Parlemen Tibet dalam pengasingan di Dharamsala, India, pada tanggal 14 Maret 2011.

10. Gyanendra Bir Bikram Shah Dev, Nepal
Gyanendra Bir Bikram Shah Dev (7 Juli 1947; umur 64 tahun) adalah Raja Nepal sejak 4 Juni 2001 hingga 28 Mei 2008. Sebagai raja Gyanendra berusaha melakukan pengendalian aktif terhadap pemerintahan. Dua kali dalam tiga tahun, ia memecat Perdana Menteri dan kemudian mengangkat pemerintahan yang dipilihnya sendiri. Pada April 2006, kaum konstitusionalis mengadakan protes di Kathmandu terhadap pemerintahan Gyanendra. Protes-protes ini mendapat dukungan dari para wartawan, pengacara, dan berbagai kelompok oposisi. Pemerintah kerajaan menanggapinya dengan memberlakukan jam malam yang diberlakukan polisi dengan kekerasan dengan memukuli para demonstran dengan tongkat atau menembak para demonstran. Tanpa mengindahkan larangan pemerintah, kubu oposisi memulai aksi mogok nasional untuk memprotes raja dan menuntut pemulihan demokrasi.
Unjuk rasa menuntut dirinya turun berakhir pada minggu ketiga sejak pertama kali digelar. Dukungan Partai Komunis Nepal terhadap tujuh partai oposisi sepakat menghentikan demonstrasi yang melumpuhkan Kathmandu. Mereka setuju menghidupkan kembali parlemen yang sudah empat tahun mati suri. Girija Prasad Koirala dipilih sebagai Perdana Menteri Nepal. Pada 10 Juni 2006 parlemen Nepal menghapuskan hak-hak kekuasaan utama raja, termasuk haknya untuk memveto undang-undang. Segala kekuasaan eksekutif, termasuk yang sebelumnya dimiliki raja, kini beralih kepada perdana menteri. Gyanendra menjadi raja sipil di bawah konstitusi sementara.Pada 23 Agustus 2007 pemerintah transisional Nepal menasionalisasikan seluruh harta benda kerajaan Gyanendra, termasuk Istana Kerajaan. Kemudian pada 24 Desember 2007 diumumkan bahwa kerajaan akan dibubarkan pada tahun 2008 setelah disetujuinya rancangan undang-undang yang mengubah Nepal menjadi republik. Pada 28 Mei 2008 kerajaan Nepal resmi dibubarkan dan digantikan republik federal sekuler.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar